Happy With You


.
.
Namaku Susi, mungkin kalian akan langsung teringat oleh Menteri Susi Pujiastuti, atau Pemain badminton Susi Susanti. Aku bukan salah satu dari wanita hebat itu, walau jujur aku sangat ingin menjadi seperti mereka.
.
Aku Susi Dwi Darmawan. Aku siswa kelas 11, di sebuah SMA terbaik di kotaku. Aku sebenarnya anak yang sangat cerdas, tapi kata artikel yang pernah ku baca di sebuah majalah, aku memiliki gangguan kecemasan. Saat ujian masuk sekolah, aku pingsan karena ketakutan. Padahal, aku yakin bisa mengerjakan semua soal itu dengan baik dalam kondisi normal, maksudku ketika tidak dalam situasi ujian. Tapi kalau di dalam kelas, dalam keadaan ujian, rasanya ilmu di otakku kompak berkhianat meninggalkanku.
.
Saat pertama kali masuk SMA, diadakan tes, dan IQ-ku diatas rata-rata. Tapi secara EQ dibawah rata-rata. Aku tak terlalu mengerti, dan aku tak terlalu mengambil pusing dengan hal ini. Fokusku saat ini menjadi siswa dengan nilai terbaik agar bisa masuk ke universitas terbaik. Aku ingin meneruskan usaha papa, jadi aku ingin mempelajari bisnis.
.
Sayangnya otak dan emosi ku tak sejalan. Aku selalu cemas menjelang ujian. Jangankan ujian, ulangan mendadak dapat membuatku demam. Tak jarang aku ikut ulangan susulan karena gugur sebelum berperang. Untungnya aku punya teman-teman yang senasib denganku, gelisah menjelang ujian, disingkat “Salaji”, nama geng kami.
.
Dulu, ketika akan menempuh ujian masuk SMA, aku stress berat, bahkan aku haid sampai 10 hari. Kemudian aku duduk di taman, berusaha untuk menenangkan diri. Aku berkeringat dingin begitu mengingat besok akan ujian, jantungku berdebar dan paru-paruku kerja rodi. Menurut beberapa orang yang kutemui, mabuk dapat membuat rileks dan melupakan masalah. Hmmm menarik juga sepertinya, akhirnya kupaksa supir yang disedikan keluargaku untuk membelikan sebotol kecil minuman beralkohol. Itulah pertama kali aku mabuk, dan memang, rasanya menyenangkan.
.
Pengalaman pertama begitu berharga. Setelah itu, Diam-diam aku sering memalsukan identitas agar bisa masuk ke club malam, karena aku masih dibawah umur. Beruntung aku memiliki teman-teman yang mau membantuku, “Salaji” sering main-main di tempat berbahaya bernama club malam.
.
Kami menikmati hidup kami dengan baik, apakah baik, entahlah. Kami capek dengan pelajaran di sekolah. Apalagi jika kamu harus bertemu dengan pelajaran sejarah, mengesalkan. Aku sedang belajar melupakan sejarah hubunganku dengan mantanku dan besok adalah ujian pelajaran sejarah. Ah, konyol sekali kalau ku pikirkan.
.
Skenario sudah disusun, aku dan teman-teman akan membuat acara belajar kelompok bohongan. Kami berkata pada orangtua masing-masing bahwa bahwa kami akan belajar di rumah Aira, sedangkan Aira akan bilang pada orangtuanya dia belajar di rumahku. Skenario ini cukup sukses dilakukan beberapa kali.
.
Kami butuh pelepasan sebelum ujian. Ujian memang selalu membuatku stress. Bahkan saat SMP, aku minum obat penenang saat menjelang UAN karena aku terus menerus gelisah. Teman mama bilang, manajemen emosiku sangat buruk untuk usiaku. Aku pernah dengar itu saat Tante itu memarahi Mama yang entah kenapa seharian menangis. “Kalau kamu seperti ini, Susi nggak akan sembuh. Manajemen emosinya lebih buruk daripada kamu. Aku nggak mau kamu memintaku membantu dia sementara kamu masih seperti ini.” Aku mencuri dengar dari pintu kamar mama yang tidak tertutup dengan baik.
.
Kalau dibilang manajemen emosiku buruk, ya memang sih. Tapi aku juga nggak tau harus diperbaiki bagaimana. Ah ya sudahlah, mungkin saat aku sudah dewasa aku bisa sembuh sendiri. Aku benar kan?
.
Kami sudah sampai di klub malam. Waktunya berbahagia sejenak sebelum ujian. Aku memesan segelas minuman beralkohol yang biasanya membuatku lupa dengan ujian besok, membuatku bahagia walau sesaat. Aku sudah cukup professional untuk tetap bisa sekolah keesokan harinya. Minum sambil menikmati alunan musik memang membahagiakan.
.
Mungkin ini yang disebut oleh tante itu sebagai manajemen emosi yang buruk. Hey, aku tau ketakutan itu harus kita hadapi, bukan lari pada minuman beralkohol. Tapi, percayalah, aku lebih memilih mabuk daripada menghadapi ketakutanku. Aku pengecut? Memang. Aku belum mau depresi di usia belia seperti ini.
.
Satu-satunya yang tau kegiatan burukku adalah kakakku. Dia sering menjemputku untuk pulang kalau tau aku ke klub malam, kemudian membawa ke kos pacarnya. Dan pacarnya akan memandikanku di kamar mandi. Itu hanya terjadi ketika kakak ada di Indonesia, sekarang kan kakak nggak ada, jadi aku puas deh. Tapi, jujur saja, aku tau apa yang aku lakukan itu salah. Aku ingin berubah, tapi bagaimana caranya?
.
Oke, sepertinya aku kelebihan dosis minum. Kurasakan air mataku jatuh di pipi. Ini sering terjadi saat mabuk menjelang ujian. Walau aku pengecut, aku cukup berani mengakui bahwa mabuk untuk menghilangkan ketakutanku itu salah.
.
Tubuhku memanas. Aku kebanyakan minum. Perutku sakit, kepalaku pusing. Aku ingin ke rumah sakit karena perutku seperti dipukul-pukul seseorang. Nyeri sekali. Minum alkohol itu dosa, apa aku pantas meminta tolong pada Tuhan? Karena rasa sakit yang kurasakan lebih menakutkan daripada ujian besok.
.
Tiba-tiba mataku mulai kabur. Aku melihat sosok tubuh berbaju coklat berdiri di depanku. Tangannya menarik tanganku, tapi rasa sakit di tubuhku membuatku sangat lemas, kakiku seperti tak bertulang. Ya Tuhan, apa aku akan mati? Apa sosok di depanku adalah malaikat pencabut nyawa. Aku melihat ke sekelilingku, buram. Kemudian gelap dan aku tidak merasakan rasa sakitku lagi. Seseorang, tolong aku. Aku mohon. Aku takut.
.
Dari Bubu Baba dan Kak Candra Adhi Wibowo
Untuk Keluarga Hebat Indonesia

Author: 

Related Posts

No Response

Tinggalkan Balasan