Haru Biru Rumah Tanggaku Part 1

 

Ku buka perlahan pintu kamar agar tak membangunkan istriku yang sedang terlelap. Kamar sudah gelap, ku edarkan pandanganku ke atas tempat tidur. Tapi tak ku lihat tanda-tanda kehidupan disana. Apa istriku belum di kamar? Tapi ruangan lain tampak sepi.
.
“Baru pulang Bos?” Suara seseorang dari balkon, tampak wujud istriku sedang berdiri disana. Kakiku mengayun mendekati wanita yang secara hukum dan agama menjadi istriku sejak 6 bulan yang lalu.
.
“Ya, kamu belum tidur?” Tanyaku yang dijawab oleh senyuman. Dia mengulurkan cangkir padaku, aroma coklat menembus otakku.
.
“Kalau aku tidur, aku nggak berada disini, Ga.” Jawabnya sambil menatap langit. Bulan purnama rupanya. Aku mengambil bungkusan yang tadi ku letakkan di meja dekat tempat tidur dan menyerahkan pada Winda.
.
“Apa nih? Hangat.”Tanya Winda seraya membuka kotak yang aku berikan padanya.
“Terang bulan.”Jawabku singkat.
“Ga, ini nggak kayak terang bulan. Lihat bulan diatas sana, bulat kan. Lha ini Cuma setengah bulat lho. Harusnya namanya bulan separuh.” Katanya sambil mengambil sepotong terang bulan. “Ini namanya martabak manis.” Komentarnya lagi. Aku hanya tersenyum.
.
Winda dan aku menikah bukan karena sebelumnya kami pacaran atau teman kerja. Kami dijodohkan oleh orangtua kami. Konyol ya, masih jaman aja dijodohin. Aku mungkin akan menolak perjodohan ini jika bukan Winda yang direkomendasikan oleh orangtuaku.
.
Aku mengenal Winda sebagai karyawan kantor sebelah yang hampir setiap hari beli terang bulan sebelum pulang kerja. Aku suka terang bulan alun-alun kota, Winda pun sering beli disana. Dari sana aku sering memperhatikannya. Kadang kami mengobrol sambil menunggu pesanan kami siap, dari obrolan itu aku tau orangtua Winda suka terang bulan.
.
Aku memandang Winda sebagai wanita mandiri, tangguh, kuat. Ketika teman-temannya diantar pacar mereka, Winda memilih untuk kemana-mana sendiri. Tak tampak rasa iri dari mata Winda ketika dia melihat teman-temannya bersama pacar masing-masing. Dari situ aku menganggap dia menarik.
.
Setelah acara perjodohan yang mendadak 8 bulan yang lalu, aku dan Winda bertemu untuk membicarakan masalah ini. Walau dijodohkan, kedua orang tua kami tidak ingin memaksa, keputusan tetap ditangan calon mempelai. Tak ku sangka Winda setuju, dan kami mulai sibuk mempersiapkan pernikahan kami. Walaupun saat itu belum terasa getaran cinta diantara kami, kami tetap ingin resepsi pernikahan terbaik.
.
“Yogaaaaa.. Ngelamun apa sih?” Pertanyaan Winda membuyarkan lamunanku.
“Apa sih Win? Berisik tau.”Jawabku.
“Salah sendiri ngelamun, dari tadi aku bilang, cepet mandi trus tidur.” Kata Winda. Aku membalas kata-kata Winda dengan tindakan nyata. Aku masuk ke kamar mandi dan segera membersihkan diri. “Ga, makan nggak?” Teriak Winda dari luar kamar mandi. “Nggak, makan martabak manis aja kenyang.” Jawabku dengan berteriak juga. Dia benar-benar suka bicara dengan keras, berbeda sekali dengan diriku yang lebih nyaman untuk diam.
.
Menjadi anak sulung membuat kami harus mandiri, tangguh, kuat, siap menerima tantangan. Kami sama-sama mandiri dan pekerja keras. Setelah menikah, kami hanya cuti 3 hari, itupun di rumah kami menyelesaikan pekerjaan kantor. Kami memiliki prinsip bahwa menjadi sulung berarti menjadi seorang leader, teladan bagi adik-adik kami.
.
Pagi hari Winda selalu menyiapkan sarapan. Aku kagum padanya. Posisinya sebagai manajer tak membuatnya melupakan pekerjaan rumah tangga. Bahkan Winda masih sempat membawa bekal untuk kami makan saat di kantor. Hari ini dia membuat bekal nasi goreng terasi yang aromanya sungguh sangat menggoda.
.
Setelah mengantar Winda ke kantornya, aku menuju ke kantorku yang hanya berjarak 100 meter dari kantor Winda. Itulah sebabnya kami sering makan siang bersama. Aku sudah meminta Winda untuk pindah ke kantorku, tapi dia menolak karena memiliki tanggung jawab di kantornya yang sekarang. Tuh kan, Winda memang keren.
.
“Pak Yoga, ada tamu, katanya teman kuliah Bapak di Australia.” Kata sekretarisku. Aku mengangkat wajaku dari gunungan berkas yang sudah menantikankan perhatianku. Aku melirik ponselku, tidak ada pesan masuk. Teman-temanku selalu memberi kabar ketika akan ke kantor.
.
“Suruh masuk aja.” Jawabku. Sekretarisku mengangguk dan menutup pintu. Tak lama kemudian pintu terbuka lagi, dan aku terkejut melihat sosok yang ada di depanku hingga tak sadar aku membuka mulutku dengan lebar.
.
“Honeeey, aku pulang.” Kata wanita itu sambil berjalan ke arahku.
“Diana? Apa yang kamu lakukan di sini?” Tanyaku sambil berdiri. Wanita di depanku tersenyum sambil melipat tangan di dadanya.
“Mencarimu donk cinta.. Aku sadar aku nggak bisa hidup tanpa kamu.” Jawab Diana.
“Tunggu, bukannya kamu sudah pacaran sama Albert, roommate ku?” Tanyaku sambil tetap berdiri dengan memasukkan tanganku ke dalam saku. Aku berusaha menenangkan diriku, aku gelisah, karena Diana, masa laluku, datang kembali disaat aku merangkai masa depanku.
.
Diana mengambil tanganku dan menggenggamnya erat-erat. “Albert, dia pria yang payah. Dia tidak memperlakukanku dengan baik. Aku sadar itu karma ku karena menolak ketika kamu ingin mengajakku ke Indonesia. Tapi aku akan memperbaiki semuanya, lihat, aku sekarang di Indonesia.” Jelas Diana sumringah dan menautkan jari jemari kami.
.
Bersamaan dengan itu pintu terbuka dan wajah Winda berada di balik pintu itu. Kejadian ini benar-benar mirip dengan sinetron yang ditonton Mama di rumah. Aku masih terkejut melihat kedatangannya yang lebih cepat dari jam makan siang. Hingga aku tak sadar bahwa tanganku dan tangan Diana masih berpegangan sampai Winda melirik kesana.
.
“Ah, maaf Pak saya tidak tau ada tamu.” Kata Winda sambil menutup pintu. Aku ingin mengejarnya, tapi Diana menarik tanganku. “Diana, jangan tarik tanganku, bukan muhrim kau tau?” Tanyaku sambil menatap tajam padanya. Bukannya takut, dia malah tersenyum senang. “Aku kangen tatapanmu itu.” Jawab Diana. Aku mengambil ponselku dan memencet nomer sahabatku, Dimas dan Eko.
.
Lanjut? klik disini
.
Dari Bubu Baba dan Kak Candra Adhi Wibowo
Untuk Keluarga Hebat Indonesia

Author: 

Related Posts

No Response

Tinggalkan Balasan