Haru Biru Rumah Tanggaku Part 2


.
.
Winda POV (Point Of View)
.
Aku berusaha menetralkan debaran jantungku yang kurang kooperatif. Aku memberi sugesti positif dan itu cukup membuatku lebih tenang. Aku berjalan menuju café di seberang kantor. Niatku datang mengajaknya makan siang lebih awal karena aku bosan makan di kantor, aku ingin mengajaknya makan di taman. Pekerjaan akhir tahun di bagian keuangan itu sangat melelahkan.
.
Saat aku menunggu secangkir kopi yang sudah ku pesan, seseorang duduk di depanku. Keinan, saudara sepupu Yoga. “Kosong kan? Dari pada diduduki jin, lebih baik ku duduki.” Kata Keinan. Aku dan Keinan seumuran, bahkan kami teman sejak SMA. Cukup mengejutkan Keinan yang heboh memiliki sepupu yang kalem seperti Yoga.
.
“Tumben gak makan bareng suami tercinta?” Tanya Keinan sambil menatap kotak bekalku. Aku mendengus kesal, aku sedang berusaha melupakan kejadian tadi, Keinan dengan entengnya mengingatkan.
.
“Kei, apa kamu kenal sama teman Yoga yang namanya Diana?” Tanyaku. Sekretarisnya tadi bilang bahwa tamu suaminya bernama Diana, dan Diana sedang berpegangan tangan dengan suaminya. Ini menjengkelkan. Apa kah aku sudah jatuh cinta pada Yoga? Ah tidak, sepertinya karena ego seorang Istri merasa terganggu.
.
“Diana, kalau gak salah Diana itu mantan pacarnya Mas Yoga.” Jawab Keinan. Aku semakin penasaran dengan ceritanya. “Terus gimana hubungan mereka sampai putus?” Tanyaku, sepertinya aku menggali kuburanku sendiri dengan bertanya seperti ini.
.
“Dari SMA sampai kuliah mereka pacaran. Waktu Prom Night, mereka jadi Best Couple. Diana juga anak yang pinter walau bandel, tapi dia masih nurut sama Yoga. Itu yang membuat mereka terus bersama sampai memutuskan kuliah di Australia. Diana mendapat Permanent Residence, jadi males balik sama Yoga. Padahal Yoga serius mau melamar Diana, tapi syaratnya mereka harus tinggal di Indonesia. Ya udah deh mereka putus. Emang kenapa sih Win?” Tanya Keinan.
.
“Diana udah pulang, kayaknya ngajak balikan deh.” Jawabku sambil menunduk.
“Wah, CLBK donk Mas Yoga?” Seru dia terkejut. Aku menatap Keinan sambil menahan air mata, ku gigit bibir bawahku untuk menahan isakan.
.
“Kayaknya gue salah ngomong ya Win?” Tanya Keinan yang ku jawab gelengan kepala. Aku berusaha memberi Keinan senyuman agar dia tidak salah tingkah di depanku.
.
Keinan yang panik melihatku hampir menangis berusaha menghiburkan dengan kekonyolan-kekonyolannya. “Win, aduh, jangan nangis donk. Ada satpol PP tuh, ntar dikira gue udah pukulin elo lagi. Win, masa depan gue berharga Win, jangan nangis. Ntar gue beliin martabak manis kesukaan elo deh.” Bujuk Keinan, bujukannya sangat tidak lucu, tapi ekspresinya sangat lucu.
.
“Gimana kalau gue bilang elo hamilin adek gue tapi elo gak mau tanggung jawab?” Tanyaku.
Keinan melongo dan menoleh ke sekelilingnya. “Astaga Winda, aku bukan laki-laki seperti itu walau pacarku banyak. Tega nian dirimu menghancurkan masa depan Keinan yang tampan dan rupawan ini.”
.
Jawaban dan wajah pucat Keinan membuatku tertawa terbahak-bahak. “Win, adek lo kan cowok semua?” Tanya Keinan. Aku menganggukkan kepala sambil tersenyum senang karena sudah ngerjain Keinan. Keinan memang konyol, tapi dia sangat menjaga citranya di depan umum.
“Gue balik ke kantor dulu ya Bro.” Pamitku pada Keinan.
.
Hari ini aku ingin menenangkan diri ke rumah Mama. Ku kirim pesan pada Mama member tahu bahwa aku ingin menginap. Mama bertanya apakah aku datang bersama suamiku, kemudian ku jawab aku datang sendiri.
“Jika kalian ada masalah, selesaikan, jangan kabur. Kalaupun butuh waktu untuk sendiri, tetaplah tinggal di rumah suamimu.” Begitu pesan Mama.
.
Jadi disinilah aku, kembali ke rumah, menyiapkan makan malam, kemudian masuk ke kamar. Bukan kamar yang biasa aku pakai bersama Yoga, tapi di kamar tamu. Aku butuh waktu dan ruang sendiri. Aku sudah meminta pada Yoga melalui pesan singkat untuk tidak menggangguku sementara waktu. Untungnya Yoga cukup kooperatif dengan itu semua. Tapi, disisi lain, aku merasa ada bagian tubuhku yang sakit, aku tak tau harus minum obat apa agar sakit ini menghilang.
.
Rumah ini menjadi sangat sepi karena masing-masing penghuninya tinggal di kamr masing-masing. Yoga tidak berusaha untuk menjelaskan padaku, dan aku pun enggan berbicara dengannya. Sudah seminggu rumah ini kehilangan nyawanya, entah sampai kapan.
.
“Aku mau cerai aja Mbak dari Yoga.” Kataku kepada kepala cabang yang menemaniku makan siang. Kenapa masalah ini justru muncul di akhir tahun sih?
“Kenapa? Apa nggak bisa diselesaikan dulu? Mungkin Cuma salah paham.” Jawab Mbak Elly.
.
“Kemarin waktu aku belanja aku melihat Diana dan Yoga makan berdua di mall. Diana menatap suamiku penuh cinta, Yoga tersenyum pada Diana. Untungnya pernikahan kami tanpa landasan cinta, jadi mungkin perceraian akan lebih mudah bagi kami.” Kataku sambil menatap langit-langit café.
“Cemburu Win?” Mbak Elly melirikku, aku merasa diejek saat ini.
“Nggak Mbak, aku susah untuk jatuh cinta. Aku Cuma merasa harga diriku sebagai istri dijatuhkan karena Yoga selingkuh.” Jawabanku ini membuat Mbak Elly tertawa terbahak-bahak hingga memancing perhatian pengunjung café. Aku hanya mampu member tatapan tajam agar wanita di depanku berhenti tertawa, untungnya wanita itu sangat peka dan menutup mulutnya.
.
“Winda-Winda, kamu tuh udah jatuh cinta sama suamimu. Kamu baru terasanya sekarang.” Tanggapan Mbak Elly membuatku berpikir. Apakah aku mencintai suamiku? Lagi-lagi aku menggigit bibir bawahku. Ku alihkan pandanganku pada langit-langit café yang berwarna hijau muda, nyaman rasanya melihat warna hijau ini.
.
“Oke, kalaupun memang aku mencintainya, dia tidak mencintaiku. Untuk apa aku harus mempertahankan sesuatu yang tidak imbang Mbak?” Tanyaku.
“Pikirkan lagi, menjadi janda itu nggak enak. Lagian darimana kamu tau dia nggak cinta sama kamu?” Mbak Elly balik bertanya. Aku berpikir sejenak.
.
“Aku bisa mandiri kok tanpa laki-laki, selama menjadi istri aku juga mengerjakan semuanya sendiri, aku tetap berpenghasilan. Aku akan menggugat cerai. Aku gak mau menjadi penghalang cinta mereka. Dan untuk masalah cinta, selama kami menikah, selama 6 bulan ini, kami nggak pernah membicarakan tentang cinta.” Jawabku pada Mbak Elly ketus.
.
“Kamu yakin bisa hidup sendiri?”
“Mbak Elly, aku wanita yang mandiri dan bebas untuk berpendapat, kalau Yoga selingkuh dengan Diana, aku berhak untuk mengajukan gugatan. Emansipasi wanita Mbak, memangnya wanita harus dijajah terus sama pria? Aku harus rela jadi obyek penderita?” Tanyaku. Mbak Elly tersenyum sambil mengaduk-aduk milkshake di depannya.
.
“Jangan membawa emansipasi dalam emosimu Win. Kamu yang sekarang justru menunjukkan fitrahmu sebagai wanita. Emansipasi memberi kita hak yang sama dengan para pria, tapi tidak bisa menghilangkan fitrah kita sebagai wanita.” Mbak Elly meremas tanganku.
“Di rumah aku melakukan tugas seorang istri kok Mbak, memasak, dan lain sebagainya juga.” Aku berusaha membela diri.
.
“Bagus itu, kamu bisa menjadi wanita karir dan istri dengan baik. Tapi bukan itu yang ku maksud. Secara fitrah, otak kita lebih emosional daripada pria, sedangkan pria adalah makhluk logika. Itulah kenapa Allah menciptakan kita berpasangan, sayang, untuk saling melengkapi, saling menguatkan, menyeimbangkan kehidupan kita di dunia dan menjadikan Pria sebagai pemimpin kita, pelindung kita dan kita sebagai wakil pemimpin sekaligus pemberi rasa nyaman pada pria.” Mbak Elly menatapku tajam dibalik kacamatanya. “Win, kamu sedang sangat emosional, pulanglah, bicarakan dengan suamimu.”
.
Aku menundukkan kepalaku. Aku emosional? Ya memang. Aku berbicara dengannya? Entahlah. Akan kuputuskan nanti sesampainya aku di rumah.
.
Samar-samar ku dengar mobil Yoga berhenti di garasi. Biasanya dia segera mandi kemudian makan malam. Aku tak mau menunda lagi, walaupun wanita, aku harus tegas.
“Aku mau bicara.” Kataku ketika melihat Yoga sudah selesai makan malam. Yoga membereskan piring kotornya dan mengikutiku menuju ruang tamu.
.
“Aku tidak akan menjadi penghalang cintamu pada Diana, kita terjebak dalam hubungan pernikahan yang entah apalah ini, jadi aku..” Aku menarik nafas sangat dalam karena ternyata berat sekali ketika meminta cerai dari suami yang ternyata ku cintai. “A-aku.. Aku pikir, lebih baik baik kita ber-bercerai saja. Setidaknya salah satu dari kita dapat berbahagia.” Akhirnya keluar juga dari bibirku.
.
Yoga terkejut dan menatapku dengan pandangan redup. Aku benar-benar berharap air mataku tidak jatuh saat ini. Yoga menundukkan kepalanya, “Apa alasannya?”
.
Aku terkejut mendengar pertanyaan Yoga. Dia mengangkat kepalanya dan menatapku, masih dengan tatapan yang redup. “Pengadilan pasti meminta alasan kenapa bercerai.” Yoga berusaha menjelaskan pertanyaannya sebelumnya.
.
Aku tidak berpikir tentang ini. Alasannya apa aku bercerai? Tentu karena Yoga CLBK dengan Diana kan? Tapi apa itu harus aku ungkapkan di depan hakim? Aku merasa itu sangat memalukan jika aku diselingkuhi, dan juga menyakitkan.
.
Tiba-tiba Yoga berdiri, “Akan ku urus besok.” Katanya sambil meninggalkanku. Dia keluar dari rumah malam itu, tinggal aku sendiri yang sudah tak kuasa menahan air mata.
.
(bersambung)

.

Lanjut? Klik disini
.
Dari Bubu Baba dan Kak Candra Adhi Wibowo
Untuk Keluarga Hebat Indonesia

Author: 

Related Posts

No Response

Tinggalkan Balasan