Haru Biru Rumah Tanggaku Part 3


.
.
Yoga POV
.
Jujur aku kaget mendengar permintaan Winda. Ku pikir dia ingin bertanya tentang hubunganku dengan Diana, aku sudah siap menjelaskan semuanya. Aku sudah bahagia ketika akhirnya dia menyapaku setelah lebih dari seminggu dia mengacuhkanku. Tapi ternyata dia hanya membahas perceraian.
.
Dan dia membahas cintaku pada Diana. Aku bukan pria baper-an yang masih terjebak pada masa lalu, ya walau masa lalu itu sempat membuatku galau. Aku sudah meminta maaf pada Diana ketika kami makan malam bersama.
.
Flash Back
.
Setelah tiga hari aku dan Winda saling mendiamkan, aku merasa masalah ini harus diperjelas. Setiap hari Diana menghubungiku, menanyakan kabarku, mengajak makan siang. Dan yang paling horror, dia pernah nekat menunggu di lobby untuk mengajakku makan siang. Untungnya Winda masih berbaik hati menyiapkan bekalku. Tapi makan bekal sendirian membuatku merasa aneh.
.
“Di, nanti malam ada waktu untuk makan malam?” Tanyaku pada Diana melalui telepon.
“Selalu ada untukmu sayang.” Jawab Diana.
“Oke, kita ketemuan di tempat aja ya. Aku langsung dari kantor. Nanti ku info alamatnya.” Kataku yang segera dioke-in oleh wanita di seberang sana.
.
Sejak perang dingin ini, aku lebih suka memperhatikan berkas-berkas di mejaku, lebih baik begitu kan daripada aku mencari pelarian yang negatif. Jadi aku pun kembali fokus pada pekerjaanku, tapi bayangan masa lalu dengan Diana berkelebat, mulai dari dikerjain kakak kelas saat MOS sama-sama hingga terpaksa berbagi makanan ketika tasnya tertinggal di taksi yang kami tumpangi saat di Australia dulu.
.
Diana anak yang cerdas dan ramah, namun dia memiliki rambut kecoklatan. Neneknya keturunan Belanda, mewariskan rambut coklat pada Diana. Hal ini kerap membuat Diana ditindas. Banyak anak perempuan yang iri pada Diana karena selain pintar, dia cantik dan dari keluarga kaya. Mungkin itu sebabnya Diana enggan kembali ke Indonesia setelah dia mendapat Permanent Residence.
.
Aku kembali ke pekerjaanku agar segera selesai. Aku harus menyelesaikan masalahku dengan Diana, baru kemudian aku akan menyelesaikan masalahku dengan Winda.
.
Diana melambaikan tangan padaku, senyumnya merekah, matanya berbinar seperti anak kecil yang mendapat balon.
“Honeeeey.” Sapa Diana ketika aku duduk di depannya.
“Sudah pesan?” Tanyaku.
“Yes, aku pesan untuk kamu juga.” Jawabnya. Aku menarik sebelah alisku.
“Kamu pesankan apa?” Tanyaku penasaran.
“Iga bakar donk, sama es jeruk.” Jawabnya sambil tersenyum penuh kemenangan karena masih ingat makanan kesukaanku. Aku mengangguk-anggukkan kepala.
.
“Tadi aku ketemu sama Tiana di mall, dia udah punya anak kembar lho. Kamu inget kan waktu SMA Tiana itu modis banget, selalu tampil cantik dan fresh, tadi dia curhat udah susah perawatan, boro-boro ke salon, mandi aja kadang dia lupa.” Dia bercerita dengan sangat semangat. Ya aku masih ingat Tiana, dulu Dimas sempat naksir Tiana, tapi kemudian dia mundur karena terlalu banyak saingan. Aku tersenyum mengingat ketika aku harus menghibur Dimas berhari-hari karena patah hati.
.
Sekilas aku melihat seorang wanita yang mirip Winda sedang berjalan keluar mall dengan pria mirip Keinan, sepupuku. Aku ingin menghubunginya memastikan apa yang ku lihat, tapi aku ingat dia belum ingin diganggu.
.
“Kapan kamu balik ke Australia?” Tanyaku berusaha fokus kembali pada tujuanku bertemu dengan Diana.
“Yoga, aku mau disini sama kamu aja.” Jawabnya. Aku mempersiapkan diri untuk menerima histerianya setelah ini.
“Di, aku sudah menikah.”
.
“Yoga, aku tau, kamu dijodohin kan sama orangtua kamu. Kenapa kamu mempertaruhkan masa depanmu seperti itu sih Ga? Aku kenalnya kamu orang yang realistis, bahkan kamu bukan orang yang mudah dibujuk, apalagi dipaksa.” Diana mulai mengkonfrontasi keputusanku.
.
“Aku sudah berkomitmen, Di.” Ucapku tegas, Diana mendengus kesal.
“Kamu cinta sama dia?” Pertanyaan Diana menohok hatiku. Apakah aku mencintai Winda?
.
“Aku membuka hatiku untuk istriku.” Jawabku.
“Istrimu mencintaimu?” Lagi-lagi dia memberi pertanyaan yang menusuk. Jujur, aku tak tau apakah Winda mencintaiku atau tidak.
.
“Hubungan kami mungkin memang belum berlandaskan cinta, Di. Tapi aku belajar untuk menerima istriku, memegang komitmen yang sudah kuucapkan di depan Ayahnya, di depan Tuhan.” Aku menatap tajam pada Diana, dia tampak menunggu kelanjutan penjelasanku. Tapi aku memilih untuk diam sambil menikmati iga bakar yang baru saja diantar oleh pramusaji.
.
“Apa dia istimewa, Ga?” Tanya Diana tiba-tiba, terpaksa aku melepaskan perhatianku dari iga bakar. Aku merasa Diana menunjukkan gejala cemburu terhadap istriku. Bertahun-tahun pacaran dengan Diana membuatku menghafal rumusan kode wanita di hadapanku demi kedamaian dunia.
.
“Di, Winda bukan kamu, kalian berbeda. Mungkin kamu lebih menyenangkan sebagai teman hidup, karena Winda adalah pekerja keras dan tegas. Kalau kamu, feminism, cantik, stylish, up to date terhadap fashion. Sedangkan Winda, karena dia pekerja keras, dia tidak memperhatikan mode, focus dia pada masa depan. Jika aku egois, mungkin aku akan memilih kembali padamu. Tapi aku nggak ingin menjadi pria pengecut yang mengingkari komitmenku sendiri. Aku malu pada Tuhan Di kalau main-main dengan ijabku. Dan aku mohon, jangan jadikan dirimu sebagai perusak rumah tanggaku, Di.” Aku berusaha menatap Diana dengan lembut karena mata Diana sudah mulai berkaca-kaca setelah mendengar penjelasanku.
.
“Kamu adalah bagian dari masa laluku, Diana. Winda adalah bagian dari masa depanku. Aku masih ingat semua kenangan tentang kita, Di. Sejak MOS sampai aku mengajakmu ke Indonesia untuk menikah. Semua masih bisa aku ceritakan dengan lancar. Aku tidak berusaha melupakanmu, dan juga kenangan kita, karena bagaimanapun kamu pernah memiliki peran dalam kehidupanku, dan menjadikanku seperti ini, aku percaya rencana Tuhan adalah yang terbaik untuk kita. Kalau aku ditanya apakah aku masih menyayangimu, ya aku masih sayang, tapi dengan tegas aku katakan pada diriku bahwa rasa sayang itu adalah hanya sebatas teman, aku gak mau terbawa emosi untuk menyalakan api asmara kita. Maafkan aku Diana karena aku melukai perasaanmu.” Diana menghapus air matanya, sepertinya dia mulai menerima penjelasanku.
.
“ Kamu tetap logis ya, Ga. Oke, aku paham, tapi aku memberimu waktu 3 hari, untuk mempertimbangkan lagi keputusanmu, barangkali kamu berubah pikiran. Dan aku juga penasaran sama istri kamu yang membuat kamu alim dan bilang aku bukan muhrim.” Kata Diana sambil tersenyum.
.
Flashback Selesai
.
Aku tersenyum kecut mengingat pertemuanku dengan Diana. Dia ingin bertemu dengan istriku, sedangkan istriku berencana menceraikanku. Aku melajukan mobilku dengan perlahan, tujuanku hanya satu. Tempat yang menurutku akan memberiku pencerahan dan kenyamanan.

.

Yoga pergi kemana ya kira-kira?

Mau tau?

Klik disini
.
Dari Bubu Baba dan Kak Candra Adhi Wibowo
Untuk Keluarga Hebat Indonesia
.
Salam Hebat Penuh Semangat

Author: 

Related Posts

One Response

  1. […] Klik disini . Dari Bubu Baba dan Kak Candra Adhi Wibowo Untuk Keluarga Hebat […]

    Haru Biru Rumah Tanggaku Part 2 | KHI 26 April 2018 at 1:46 pm Reply

Tinggalkan Balasan