Haru Biru Rumah Tanggaku Part 4


.
.
Mobilku sampai di depan rumah Dimas. Aku sebenarnya nggak enak kalau mengganggunya, tapi aku tak tau harus kemana. Aku ingin agar Winda menenangkan diri, dan juga aku takut terbawa emosinya. Kalau aku tak salah ingat, minggu ini adalah minggu pra menstruasi Winda, tau sendiri kan bagaimana wanita menjelang kedatangan tamu. Ini adalah tamu Winda yang sangat tidak kusukai karena aku sering menjadi korban.
.
Tanpa sadar aku tersenyum mengingat bulan lalu aku terpaksa mengantarkan popoknya Winda yang ketinggalan di mobil ke dalam kantornya. Aku lupa nama benda itu, lebih mudah ku sebut popok saja. Aku bertanya kenapa sampai butuh ini? Memangnya tadi nggak pakai? Dia menjawab, lagi keluar banyak. Jujur ini membuatku khawatir dia kehabisan darah, jadi saat pulang kantor aku menawarinya transfusi darah. Mungkin ini ide yang konyol, karena Winda tertawa lepas.
.
Setelah ku tekan bel pagarnya, pembantunya membukakan pintu pagar. Lusia, istri Dimas yang sedang hamil tua membukakan pintu. “Hai, cowok. Kusut banget tuh muka.” Kata Lusia yang ku beri senyuman. Lusia adalah adikku. Dia lebih dulu menikah karena aku masih ingin fokus pada karir agar bisa membahagiakan keluarga. Aku memeluk tubuhnya yang semakin membesar.
“Udah makan, Mas? Kalau belum sana makan sama Dimas dan Eko.” Kata Lusia. Aku merangkul pundaknya dan membawanya masuk ke rumah menuju ruang tamu.
“Hai Bro, makan dulu sini biar bahagia.” Kata Eko sambil makan soto ayam masakan adikku. Lusia sangat jago membuat soto ayam, itulah kenapa aku membuatkannya kedai soto ayam untuknya selepas dia kuliah.
“Eko, kamu ngapain kesini? Istrimu mana?” Tanyaku sebal karena ada Eko disini. Eko paling sering ngejekin kalau lagi ngumpul, jadi wajar donk aku khawatir dia akan membuatku semakin sumpek.
“Istriku lagi pulang, sepupunya mau nikah, jadi dia bantu-bantu disana. Nah itulah sebabnya aku numpang makan disini, Ga. Eh, Ga! Itu muka tolong dikondisikan donk, manyun gitu bikin sotonya Lusia gak enak nih.” Jawab Eko. Tuh kan, belum apa-apa udah bikin sebel aja.
.
“Lo ngapain kesini Ga?” Tanya Dimas. Aku tak bisa menjawab pertanyaan Dimas di depan Lusia. Aku nggak ingin memberi kesan yang tidak baik pada adikku.
“Kangen sama kalian.” Jawabku sekenanya, dan ternyata jawaban itu membuat Eko tersedak. “Najis tralala gue dikangenin cowok.” Kata Eko yang membuat Lusia mengembangkan sebuah senyuman.
“Cerita aja, Lusia udah tau kok masalah kalian.” Kata Dimas. Aku melirik adikku yang tersenyum padaku. Aku merasa malu padanya. “Yuk, duduk di taman.” Ajak Lusia sambil menarik tanganku. “Kalian nanti nyusul ya.” Tambah Lusia pada dua pria yang masih sibuk dengan piring masing-masing.
.
“Ada apa Mas?” Tanya Lusia ketika kami sudah duduk di gazebo. Dia menyandarkan punggungnya di tiang gazebo dan menatap taman yang tampak lebih terang dengan pancaran sinar lampu.
.
Aku mengambil nafas, menetralkan deguban jantungku. Ku lihat Eko dan Dimas mulai mendekati kami. Dimas mengambil tempat di sisi istrinya kemudian membelai kepala Lusia. Aku tersenyum merasakan kehangatan cinta mereka.
“Winda minta cerai.” Kataku akhirnya. Lusia menatapku dan member senyuman yang menenangkan, seperti MamaKU sedangkan suaminya mengerutkan keningnya, sedangkan Eko dia manggut-manggut sambil menundukkan kepala.
.
“Kenapa? Bukannya kamu sama Diana udah clear?” Tanya Dimas.
“Dia nggak mau menjadi penghalang cintaku pada Diana. Itu alasannya.” Jawabku. Wajahku menjadi panas lagi.
“Katanya Mas Yoga udah tertarik sama Mbak Winda sejak lihat Mbak Winda Sering beli martabak manis?” Tanya Lusia. “Iya, sekarang kurasa aku mencintainya kok Lus, kamu tau sendiri kan aku gak suka dipaksa.” Jawabku. Lusia mengangguk-angguk di depanku. Aku mulai merasakan bahwa aku mencintai istriku ketika melihatnya jalan berdua dengan Keinan. Oke, jujur, aku cemburu. Keinan bocah tengil yang heboh kalau ponselnya ketinggalan, apa yang menarik dari dia sih Win?
.
“Masalahnya, Mbak Winda tau nggak kalau Mas Yoga mencintainya?” Tanya Lusia.
“Ya tentu saja dia tau.” Jawabku yakin, dahi Lusia mengernyit. “Gimana dulu waktu ngomongnya?” Tanya Lusia. Adikku ini memang peneliti yang hebat.
.
“Ya gak pakai ngomong lah Lus, aku makan semua makanan yang dia masak, aku habiskan bekal yang dia buat, bahkan aku juga makan bekal yang bentuknya aneg-aneh juga. Aku bawakan martabak manis kesukaannya. Aku nemenin dia nonton film drama dan berjuang biar nggak ngantuk. Itu semua kan karena aku mencintainya Lus. Winda wanita yang tangguh, bukan tipe romantis kayak kamu.” Jujur, aku sebenarnya malu mengatakan ini pada adik dan sahabat-sahabatku. Namun, ungkapan jujurku malah ditertawakan oleh mereka. Untungnya aku nggak cerita kalau aku cemburu sama Keinan.
.
“Aduh, maaf ya kakak ipar, aku selalu menganggap kamu itu pria yang sangat pintar dalam segala hal. Ternyata kamu sangat lemah terhadap wanita.” Kata Dimas sambil menyeka air matanya, bukan air mata keesedihan, tapi air mata tawa. Menjengkelkan.
.
“Mas Yoga, perasaan cinta itu harus diungkapin Mas. Mas Yoga harus mengatakan bahwa Mas Yoga mencintai Mbak Winda.” Jelas Lusia. “Aku punya cara sendiri untuk mencintainya Lus.” Aku membela diri. Ketiga orang yang duduk di sekitar member reaksi yang berbeda, tapi aku merangkum semua ekspresi itu sebagai wujud jengkel padaku. Aku salah apa?
.
“Terus aja makan tuh ego kamu Mas.” Lusia jadi ketus padaku. Ku lirik Dimas mencari bantuan, tapi dia malah nyengir. Eko apalagi, dia membuang muka tapi aku menangkap dia sedang menahan tawa.
.
“Ga, memang ngomong cinta tuh berat. Gengsi lah ngomong cinta, bukti terbesar kita mencintai istri kan dengan ikatan pernikahan ini, betul Nggak Mas?” Tanya Eko pada Dimas yang disambut dengan anggukan kepala Dimas. “Tapi itulah seninya mencintai seorang wanita, Ga. Mereka butuh untuk diyakinkan bahwa kita mencintainya, bahwa dia berharga untuk kita. Dan itu harus kita tunjukkan dengan kata-kata pada mereka. Setangguh apapun Winda, semandiri apapun dia, dia tetap butuh pernyataan cinta dari suaminya, dia butuh pelukan suami sekedar memastikan bahwa dia nggak sendirian. Wanita ingin dicintai, Bro..” Lanjut Eko yang disambut anggukan kepala Lusia. Tumben banget Eko bisa ngomong kayak gini.
.
“Mana sih yang lebih penting, antara gengsi dan istri?” Tanya Dimas.
“Wanita itu emosional Mas, itulah kenapa pria yang menjadi pemimpin rumah tangga, karena pria lebih logis. Itu artinya Tuhan sudah meminta kita untuk saling memahami satu sama lain. Ketika istri menjadi api, suami menjadi air, begitu juga sebaliknya. Menikah itu seni mengalah. Mengalah bukan untuk kalah, tapi agar rumah tangga membawa berkah.” Tambah Lusia. Adikku sudah semakin dewasa dan bisa menasehati kakaknya. Aku benar-benar terharus menatap adikku Lusia.
.
“Aku pernah melihat Keinan dan Winda tertawa ketika kejadian Winda lihat aku sama Diana. Keinan mampu menjadi air daripada aku. Selain itu mereka pernah jalan di mall berdua.” Kataku sambil menunduk mengingat bagaimana Winda tertawa sambil menyeka air matanya. Jujur, aku sangat sakit hati. Apakah Winda lebih berbahagia dengan Keinan?
“Sekarang siapa yang berani menikahi Winda?” Tanya Dimas. “Winda setuju menikah denganmu, mengikat masa depannya denganmu, itu sebuah komitmen. Jika dia masih Winda yang ku kenal sebagai manajer keuangan, aku yakin hubungan Winda dan Keinan hanya teman.”
.
“Jadi, aku harus gimana?” Tanyaku. Otakku benar-benar tumpul. Lelah sekali malam ini.
“Istirahatlah dulu Mas, udah malam. Wajah kamu pucat lho. Tidur disini aja, bareng Eko.” Kata Lusia.
.
“Jijay sih tidur bareng Yoga, tapi nggak apa deh, semoga dicatat sebagai sedekah karena menghibur teman yang lagi galau. Astaga Yoga, dulu SMA gak pernah galau, udah tua baru galau. Ntar anak gue bakal gue nasehatin galaulah pada waktunya, biar gak galau saat udah tua.” Kata Eko sambil berdiri masuk ke dalam rumah. Aku mengekor padanya.
Kami berbaring diatas tempat tidur yang sama. Dia menatap ke langit-langit kamar, aku pun mengikuti jejaknya.
“Istri kamu gimana, Ko? Pernah minta cerai nggak?” Tanyaku iseng.
“Amit-amit Ga istri minta cerai itu sama dengan bencana. Alhamdulillah, aku berusaha ngalah kalau istriku mulai kayak mercon. Apalagi dia lagi hamil, makin mengerikan emosinya.” Jawab eko sambil nyengir.
.
“Kamu waras ya di depan istri.” Komentarku.
“Iya, gilanya sama kalian aja. Hahaha.” Jawabnya.
“Ya udah ayo tidur, jangan lupa doa dulu.” Kataku.
“Iya doa dulu, secara boboknya sama kamu, kuatirnya mimpi buruk. Allahumma bariklana..”
“Salah doa, itu doa mau makan.” Potongku.
“Oh iya, masih keinget sotonya Lusia.” Eko sudah mulai gak waras lagi, aku segera menarik selimutku karena rasanya dingin sekali malam ini.
.
Aku rasa semalam aku sudah menelan blender karena perutku terasa seperti diaduk-aduk, mungkin aku masuk angin karena semalam hanya makan sedikit dan kena angin malam. Perutku mual sekali hingga beberapa kali harus ke toilet. Eko menggosokkan minyak kayu putih di punggungku, sedangkan Lusia menyiapkan teh hangat untukku.
.
“Lo masuk angin apa grogi PDKT sama istri Bro?” Tanya Dimas sambil tergelak. Betul juga, aku jadi semakin grogi mau menemui Winda.
.
Lusia memintaku tidur dulu, kantor sementara akan dikelola oleh Dimas. Aku menurut karena perutku masih mual sekali. Ponselku bergetar, ada pesan masuk dari Winda, “Aku sudah menemukan pengacara yang bisa membantu perceraian kita.” Pesan singkat dari Winda membuat kepalaku tiba-tiba pusing. Aku jadi malas untuk bertemu dengannya. Sepertinya akan sia-sia.
.
Apakah setelah kami bercerai, Winda akan menikah dengan Keinan? Salah satu dari kami harus bahagia? Aku membayangkan mereka menikah membuatku mual lagi. Aku berlari ke kamar mandi, setelah membuang isi perut untuk kesekian kalinya, aku membaringkan tubuhku. Memaksa diri untuk tidur agar aku tidak membayangkan yang macem-macem.

.

Bagaimana nasib Yoga selanjutnya?

Klik disini ya
.
Dari Bubu Baba dan Kak Candra Adhi Wibowo
.
Untuk Keluarga Hebat Indonesia

Author: 

Related Posts

No Response

Tinggalkan Balasan