Haru Biru Rumah Tanggaku Part 5


.
.
Aku tak tau sudah tertidur sejak kapan. Lusia membangunkanku karena sudah sore. Dimas ada di sampingnya. Dia bertanya bagaimana keadaanku sekarang. Aku malah menceritakan tentang pesan Winda padaku tadi siang. Lusia dan Dimas saling berpandangan.
.
“Oke, Bos. Tidak ada waktu untuk tidur-tiduran. Kita punya misi penting.” Kata Dimas sambil memapahku yang masih lemas. Lusia melepas kepergian kami dengan senyuman. Aku nggak bisa menyetir sendiri, jadi Dimas yang mengantarku.
“Kita ke rumah sakit ya? Jangan donk, aku nggak separah itu.” Pintaku lemas. Jujur, aku sangat takut diinfus.
“Kita mencari obat buat penyakitmu itu.”Jawab Dimas tanpa memandang ke arahku.
.
“Ke klinik ya? Aku nggak mau rawat inap lho ya.” Tegasku.
“Ke rumah elo laaaah! Aduh, pengen ngomong kasar sama kamu, tapi kamunya lagi sakit, bisa double dosanya.” Kata Dimas sambil memukul-mukul kemudi.
.
Aku tersenyum sekaligus ragu-ragu. Apakah keputusanku sudah tepat?
.
“Bro, mampir ke martabak manis kesukaan Winda ya.” Dimas mengangguk dan menepikan mobilnya. Dia keluar dan memesan martabak manis sesuai instruksiku.
Martabak manis sudah ditangan, kami melanjutkan perjalanan. Aku meminta Dimas mampir ke toko alat tulis dan membeli beberapa hal. Tentu saja aku hanya bisa duduk di dalam mobil. Aku menatap ke sekeliling sambil menunggu Dimas.
.
“Saatnya bebas menentukan pilihan.” Aku membaca sebuah tulisan dari KPU di tepi jalan. Tulisan itu benar-benar menusukku. Aku mencoba mengalihkan pikiranku dan membuka instagram. Salah satu rekan bisnisku membuat sebuah caption atas sebuah foto “Hidup adalah sebuah pilihan.” Oke, aku merasa ditusuk berkali-kali. Sakit, Tuhan.. Sakiiiit..
.
Dimas sudah masuk ke mobil. Syukurlah. Tak lama kemudian Dimas mengantarkanku ke rumah. Perjalanan ini dihiasi oleh jantungku yang berdegub dengan sangat kencang, AC mobil menyala, tapi aku berkeringat.
.
Keadaan rumah Masih sepi, ini sudah jam pulang kantornya Winda. Mungkin dia lembur, akhir tahun membuatnya sangat sibuk. Aku meminta Dimas meninggalkanku. Setidaknya nanti tidak ada saksi mata selain Winda jika terjadi hal yang memalukan.
.
Aku menunggunya di ruang tamu sambil memegang sebuah map berwarna biru. Martabak manis sudah ku letakkan di meja. Aku menatap rumahku, aku merasa sudah lama tidak berada di tempat ini.
.
Ku dengar mobil Winda berhenti di depan. Tak lama kemudian pintu terbuka dan aku melihat Winda yang terkejut melihatku yang duduk dengan manis di ruang tamu.
.
“Kamu pucet Ga, sakit?” Tanyanya sambil duduk di sebelahku dan menempelkan tangannya di pipiku. Aku menikmati wajah khawatirnya yang menatapku. Aku hanya tersenyum padanya.
.
“Mau dibuatin teh hangat atau jahe hangat?” Tanyanya tetap dengan wajah khawatir. Aku memeluknya dan meletakkan kepalaku di bahunya. Hangat dan nyaman sekali, Ya Tuhan. Kenapa jadi baper gini ya?
.
Tiba-tiba air mataku jatuh, tubuhku mulai bergetar menahan isak tangis. Aku sudah berusaha dengan keras untuk tidak menangis, tapi sepertinya harapan tak sesuai kenyataan. Kejadian memalukan itu terjadi, untungnya Dimas sudah pulang. Aku menangis sampai terisak-isak di bahu istriku. “Yogaaaa, mananya yang sakit?” Tanya Winda sambil mendorongku, aku melihat air matanya juga menggenang.
.
Aku menggelengkan kepala dan membelai pipinya yang lembut sambil tersenyum. Air matanya semakin deras menetes. Aku merasa tidak ingin menghapus air mata itu.
.
“Aku Cuma masuk angin kok Win.” Jawabku menenangkannya. Ekspresi Winda berubah menjadi kesal.
“Kirain sakit parah.” Kata Winda dengan jutek.
“Tuh ada martabak manis kesukaan kamu.” Kataku menunjuk kotak di atas meja. Dia melirik kearah meja kemudian membuang muka.
.
“Aku nggak lapar.” Jawab Winda dengan jutek.
.
Krucuuuk.. Aku mendengar perut Winda berbunyi. Aku berusaha setengah mati untuk tidak tertawa. Aku tak mau menambah masalah lagi.
“Perut penghianat, tak tau diri.” Bisik Winda sambil menatap perutnya. Aku semakin tak kuat menahan tawa. Oke mulut, tolong bekerjasamalah dengan baik.
.
“Makan aja dulu Win.” Kataku sambil menyodorkan sepotong martabak manis kesukaannya. Dia menurut dan segera menghabiskan potongan martabak manis.
.
Winda POV
.
Aku menahan malu memakan martabak manis yang ada di hadapanku. Aku tak mau perutku berbunyi lagi dan mempermalukanku lagi. Ingin rasanya aku memberi kuliah pada organ pencernaan dalam perutku untuk menjaga sopan santun, menjaga adab, agar tidak berbunyi sembarang tempat.
.
Aku menatap Yoga di depanku, wajahnya pucat. Dia meletakkan kepalanya di sandaran sofa sambil menatapku, dia tersenyum. Kenapa kamu selemah itu sih Ga kalau Cuma masuk angin?
.
“Win, bacalah.” Kata Yoga sambil menyerahkan sebuah map berwarna biru. Apakah itu gugatan perceraian kami? Aku deg-degan menerima map itu dan membuka isinya. Aku yang meminta perceraian ini dan aku harus berani menghadapinya.
.
Dear Winda
Istriku
.
Kamu adalah pribadi yang tangguh, kamu adalah pribadi yang kuat, kamu adalah sosok yang mandiri. Aku bangga memiliki istri sepertimu. Jika kamu lelah, bersandarlah di bahuku, karena aku selalu mencintaimu.
.
Suamimu
Yoga HW
.
Aku tak mampu berkata-kata lagi membaca tulisan dari suamiku yang ditulis dengan tangan. Dia tersenyum menatapku, kemudian membelai pipiku dengan lembut.
“Yoga, ada yang mau kamu katakan?” Tanyaku. Dia terkejut dan menggaruk rambutnya. Aku tau dia salah tingkah. “Setidaknya aku butuh penjelasan secara lisan.” Tambahku.
.
Yoga memijat dahinya, kemudian tangannya berpindah menutup mulutnya. Tak lama kemudian dia mengacak-acak rambutnya, frustasi kayaknya.
“Win, selama ini hubungan kita berjalan dengan baik.” Yoga mengawali pembicaraan.
“Ya, memang berjalan cukup baik menurutku.” Aku ikut menjawab.
“Kita bersama sudah 6 bulan, dan semuanya baik-baik saja, Win.”
“Oh ya, 6 bulan pertama cukup menyenangkan sebelum Negara api menyerang.” Tambahku, aku sudah gatal untuk menggodanya karena baru kali ini aku melihat Yoga setegang ini, bahkan lebih tegang saat mengucapkan ijab qobul.
“Winda, ku mohon, jangan rusak moment berharga ini, aku sedang berusaha keras.” Pinta Yoga memelas, aku menutup mulutku, memberinya kesempatan. Dia melepaskan nafas berat kemudian menatapku lagi. “Win, sebentar ya, aku lupa mau ngomong apa. Aku bukan martabak yang bisa manis.”
.
Yoga memang hebat dalam bisnis dan presentasi, tapi dalam keluarga, seperti ini lah dia. Aku menunggu, memberi kesempatan, dan akhirnya aku tak sabar.
“Yoga, hubungan kita 6 bulan, 1 semester. Dan mungkin, Diana adalah ujian semester kita yang diberikan oleh Tuhan.”
“Wah, betul juga. Lalu hasil ujian kita bagaimana?” Tanya Yoga dengan menatapku tajam.
“Hanya Allah yang tau bagaimana raport kita, Ga. Seperti kata Jack Sparrow, kau tau, bajak laut itu, dia pernah berkata, masalahnya bukan berada di masalah itu tapi bagaimana kita menghadapi masalah itu.” Kataku.
“Bajak laut itu, benar juga. Masalahnya ada di sikap kita. Kira-kira, apa ujian dari Tuhan ada remidialnya kah? Maksudnya, kita perbaiki lagi sikap kita.” Yoga menatapku cemas.
.
Aku membalas tatapan Yoga. Aku menimbang ulang keputusanku. Apakah ini tepat? Haruskah ini berakhir? Apakah aku sudah menyelesaikan ujian dengan maksimal.
“Kalau kamu, apa yang kamu inginkan, Ga?” Tanyaku.
“Aku takut diceraikan kamu Win.” Jawabnya.
“Alasannya?” Tanyaku lagi.
.
Dia diam menatapku, kemudian menundukkan kepalanya. Menatap lantai sambil meremas jarinya sendiri. “Win, sungguh ini memalukan bagiku, tapi aku lebih malu lagi pada Tuhan jika aku kehilangan dirimu. Aku merasa, aku mencintaimu Winda, istriku.” Jawab Yoga sambil meremas tanganku. Tangannya dingin, padahal aku kegerahan.
Aku tersenyum mendengar jawabannya. Baru kali ini dia bilang mencintaiku. “Wow, speechless aku, Ga.”
.
“Win, bisakah kita mulai dari awal?” Tanyanya.
“Yoga, hidup bukan game yang bisa di-reset ulang. Kita hanya bisa memperbaiki. Aku sudah meminta saran dari tanteku. Dan aku mengajukan syarat sebelum kita memperbaiki hubungan kita. Syarat pertama, kamu harus ikut program Kartu Cinta dari tanteku, ini misi penyelamatan rumah tangga kita. selama 30 hari kita akan mendapat tugas khusus yang bertujuan untuk mempererat hubungan kita.” Jelasku.
.
“Oke, aku setuju. Apapun Win, asalkan kita tidak berpisah.” Jawab Yoga.
.
“Syarat kedua, aku mau bertemu dengan Diana, berdua saja, tanpa ada kamu.” Permintaanku ini membuat Yoga terkejut, sangat terkejut kayaknya sih sampai melongo gitu.
“Mau ngapain?” Tanya Yoga.
“Cuma ngobrol, menyelesaikan masalah kami. Kalau bisa, besok aku ingin bertemu dia, Ga.” Tegasku.
.
Yoga berpikir sejenak kemudian dia menelpon Diana. Aku cukup sebagai pendengar saja. “Oke, besok siang kalian bisa bertemu, dia pulang dengan penerbangan malam. Mau ketemu dimana?” Tanya Yoga.
“Besok ku info ya. Aku capek banget, mau tidur.” Aku mengangkat tubuhku.
.
“Eh Win, kamu tidur dikamar kita kan?” Tanyanya dengan wajah cemas.
“Kenapa?” Tanyaku iseng.
“Semalam aku tidur dengan Eko, Win. Itu cukup mengerikan, mungkin aku sakit sekarang karena trauma sama dia.” Penjelasan Yoga membuatku tertawa lepas. Dia terkejut melihatku tertawa, jadi segera ku tutup mulutku.
“Baiklah, lagi pula kamu kan lagi sakit, jadi akan ku rawat.” Jawabku sambil melangkahkan kaki ke kamarku.
.
Setelah mandi dengan air hangat, aku duduk diatas tempat tidur menunggu Yoga yang sedang mandi. Kami akan pergi membeli makan malam di luar saja. Sambil menunggu aku memejamkan mata sejenak. Ku rasakan sentuhan di pipiku. Ku buka mataku dan melihat Yoga berdiri di sampingku. “Yuk.” Katanya.
.
Aku bangun dan meraih tas kecilku kemudian berjalan keluar kamar. Kali ini aku yang menyetir karena Yoga mengeluh perutnya mual lagi. Dia memegang kantong kresek hitam, kepalanya diletakkan di jendela mobil.
.
“Oke, mau makan apa Ga?” Tanyaku saat melintasi jalan yang penuh dengan warung kaki lima. Yoga sudah mulai melihat-lihat warung di pinggir jalan. “Rawon aja gimana?” Tanyanya. Aku mengangguk dan memarkirkan mobil di depan warung soto yang tidak terlalu ramai.
.
Setelah memesan makanan, kami duduk berdua. Dan tiba-tiba Yoga keluar dan tau apa yang terjadi? Dia muntah lagi. Menyebalkan, tau gini pesan online aja deh. Tapi kasihan juga sih, jadi aku meminta teh hangat untuk Yoga. Dia sudah kembali dengan wajah pucatnya. “Mau dibungkus aja, Ga?” dia menggelengkan kepala kemudian memakan rawonnya dengan lahap. Wow, untuk ukuran orang sakit, ini sangat luar biasa.
.
Aku mengambil sebuah botol obat dari dalam tasku dan meminum sebutir dengan bantuan air putih. “Itu apa?” Tanya Yoga. “Vitamin.” Jawabku singkat. “Vitamin apa? Tumben kamu minum vitamin. Biasanya langsung buahnya.” Tanya Yoga penasaran. “ Vitamin biar gak mual.” Jawabku kemudian mulai makan. “Emang kamu sakit juga Win?” Tanya Yoga. “Enggak, Cuma lagi hamil muda.” Jawabku dan melanjutkan makan. Yoga menatapku bingung.
.
“Uapaaaa? Kamu hamil Win?” Tanyanya dengan suara keras. Ku injak kakinya dengan kencang. Dia meringis kesakitan. “Berisik banget sih Yoga?” Tanyaku. Dia mulai membuka mulut, tapi segera ku tatap tajam, “Makan, Yoga!”
.
Setelah makan aku mengajaknya ke sebuah taman. Dia mulai menginterogasiku, belum ku jawab, dia sudah memberi pertanyaan yang lain, sebenernya mau dijawab apa enggak sih nih orang?
.
“Aku baru tau hamil tadi, Ga. Waktu ke rumah tante, aku baru inget udah telat 2 minggu. Ku kira setress karena kamu, ternyata enggak. Dan tadi di rumah kan focus ke pernyataan cintamu.” Jelasku.
“Karena kita akan jadi orangtua, berarti kita gak boleh cerai, demi anak kita.” Kata Yoga.
.
“Aku nggak mau seperti itu, jangan jadikan anak sebagai tameng. Alasanku menerima kamu, dengan 2 syarat tadi, karena pertanggungjawabanku pada Tuhan, atas pernikahan ini. Jika kita bertahan karena anak, ketika anak sudah dewasa, aku khawatir kita harus mencari alasan lain untuk tetap bersama. Mempertahankan hubungan karena anak tetap memberi ketidaknyamanan bagi kita, kamu dan aku, dan ini berimbas pada anak kita. Dan secara tidak langsung kita menyakiti anak dengan memberi hubungan suami istri yang tidak benar-benar harmonis.” Yoga mendengarkan penjelasanku, kemudian dia berpikir.
.
“Kamu benar, keinginan untuk bersama harus dari diri kita masing-masing, kita harus berusaha dengan baik, anggap aja ini kita lagi ujian ulang.” Yoga menganggukkan kepalanya memahami apa yang ku katakana. Aku tersenyum sambil menepuk pahanya.
.
“Eh Win, aku penasaran, kamu mau ngomong apa sama Diana?” Tanya Yoga.
“Hanya mau bekerjasama secara personal dengan Diana.” Jawabku.
Ya, Diana, wanita yang sempat hadir dalam kehidupan kami. Aku merasa sangat perlu untuk bertemu dengannya, menyelesaikan masalah kami berdua. Entah apa yang akan kami bicarakan nanti, yang jelas aku ingin membantunya.
.
Akhirnya moment dimana aku dan Diana bertemu. Yoga tidak masuk kerja karena masih muntah tadi pagi. Sebenarnya yang hamil siapa sih? Aku jadi heran. Selagi memikirkan Yoga, aku menangkap bayangan wanita berjalan ke arahku. Diana sudah berada di depanku. Aku mempersilahkan dia duduk dan memesan menu.
.
“Aku nggak nyangka kamu mengajak aku bertemu, Cuma berdua.” Kata Diana setelah memesan makanan.
“Kenapa?” Tanyaku.
“Ya, kebanyakan wanita menghindari mantan suaminya.” Jawab Diana.
.
“Kamu nggak takut mengajak suamiku balikan, kenapa aku harus takut bertemu denganmu?” Aku bertanya, ku lihat Diana terkejut dengan pertanyaanku, kemudian dia tersenyum. “Diana, kita harus menyelesaikan masalah kita secara betina.” Tambahku.
“Oke.” Jawab Diana. Aku mengambil sesuatu dari dalam tasku dan memberikan padanya. Dia terkejut menerima pemberianku. “Kenapa kamu memberiku ini?” Tanyanya.
.
“Aku wanita, kamu wanita, aku tau apa yang kamu butuhkan, jadi kurasa kita bisa bekerjasama. Kamu kurang perhatian dari suamimu, aku sudah mendapat info dari informanku, dan aku ingin kita bersama menjalankan misi menyelamatkan hubungan cinta keluarga kita masing-masing.” Jelasku, dan lagi-lagi Diana bingung.
“Serius?” Tanya Diana.
“Sepuluh ribu rius deh, kalau kurang, bisa nego.” Jawabku tersenyum.
.
“Kamu memang menarik. Jadi kapan kita menjalankan misi kita?” Tanyanya dengan tersenyum.
“Sebelumnya, aku ingin kita double date. Aku dengan Yoga, kamu dengan suamimu. Kita bicarakan lagi pada pria-pria itu tentang konsepnya.”
“Wow, kamu nggak takut aku ngerebut Yoga?”
“Jangan membuatku berubah pikiran, Diana.” Jawabku, dia tertawa terbahak-bahak. Kemudian dia berdiri, berjalan ke arahku, dan memelukku. Jujur, ini diluar prediksiku. Jadi aku membalas pelukannya. “Terima kasih ya, Winda.” Bisik Diana.
.
(End)
.
Sesuai request, cerita ini akan dibuat Novel Hardcopy yang akan menceritakan perjuangan Diana dan Winda dalam menjalankan misinya dalam menyelamatkan keluarga masing-masing.
.
Mau tau kenapa Diana ingin merebut Yoga? Ada apa dengan kehidupan Diana di Australia? Ternyata pernikahan Diana juga terancam perceraian. Kenapa ya? Kepo?
.
Dari Bubu Baba dan Kak Candra Adhi Wibowo
Untuk Keluarga Hebat Indonesia

Author: 

Related Posts

No Response

Tinggalkan Balasan