My First Broken Heart


.
Namaku Hari. Tahun ini aku menjadi anak SMP. Bangga sekali rasanya ketika pertama kali menggunakan seragam putih biru ini. Aku merasa lebih dewasa. Kehidupan sekolahku biasa-biasa saja, mayoritas anak cowok di kelasku senang ngobrol tentang hal-hal mesum, dan ini membuatku risih sekali.
.
Dan murid-murid ceweknya….., Ah jangan berharap aku akan ngobrol dengan teman sekelas yang cewek ya. Kalau teman-teman cowok tau aku ngobrol dengan anak cewek, bisa hancur masa SMP ku karena ditindas mereka.
.
Tapi sejujurnya aku sering ngobrol dengan seorang anak perempuan, namanya Luna. Kami sering bertemu di perpustakaan sekolah. Aku sering kesana karena menggunakan fasilitas internet gratis perpustakaan. Aku suka sekali membaca di internet, entah itu ilmu pengetahuan atau sekedar chatting dengan sesama penggemar Marvel. Apalagi sebentar lagi film Avenger akan segera tayang, semakin semangat aku mengikuti kegiatan di forum.
.
Luna juga suka berinteraksi lewat dunia maya. Sayangnya dia tidak terlalu suka dengan Marvel, dia suka sekali dengan anime. Jadi dia suka membaca komik atau menonton anime ketika di perpustakaan. Luna pernah bilang ingin sekolah di Jepang agar bisa ikut cosplay. Ya, akupun ingin ikut acara offline para penggemar Marvel. Sayangnya papa terlalu sibuk untuk mengantarku keluar kota.
.
Selain Luna, juga ada si kembar Diko dan Dino. Mereka penggemar DC Comic, kami sering membandingkan Marvel dan DC Comic, tapi itu tidak membuat persahabatan kami renggang. Kami bertiga berencana akan menonton film Avenger terbaru akhir bulan april. Kebetulan kakak si kembar yang bernama Dimas adalah wiraswasta, jadi kami bisa minta antar untuk menonton bersama. Kalau Kak Dimas, dia suka DC Comic maupun Marvel, tapi tidak terlalu fanatik, hanya sebatas suka.
.
Papaku bernama Hendarso. Tahun lalu kami masih tinggal serumah. Namun sejak awal tahun 2018, papa harus bekerja di luar kota agar pangkatnya naik. Kalau mamaku bernama Cahyani, ibu rumah tangga yang memiliki toko kebutuhan rumah tangga. Aku memiliki dua adik, yang satu masih SD bernama Nadia, yang satu lagi bernama Arza yang masih TK. Itulah sebabnya mama nggak bisa antar aku kemana-mana. Kalau pergi sendiri, jelas tidak boleh. Kadang aku merasa mama terlalu membatasi pergaulanku.
.
Menjadi anak sulung ternyata rasanya tidak menyenangkan, karena mama selalu bilang aku harus menjadi contoh bagi adik-adikku. Yang membuatku bingung, apa yang harus aku tampilkan pada adik-adikku? Kadang aku merasa orang dewasa terlalu banyak menuntut hal yang membuat anak seusiaku bingung. Daripada menanggapi tuntutan tersebut, aku lebih suka diam dan membaca di internet.
.
Akhirnya hari ujian nasional kakak kelas dimulai minggu depan. Walau matahari panas sekali, aku sangat bersemangat hari ini. Aku sudah membayangkan seminggu kedepan aku bisa puas berselancar di internet dan mengobrol dengan teman-temanku di dunia maya.
.
Kriiiinggggg…., Akhirnya Jam sekolah usai.
.
Aku tak sabar untuk pulang sekolah. Aku segera mengayuh sepedaku dengan tenaga yang tersisa di tengah paparan sinar matahari siang itu. Terlihat Luna di depanku juga sedang mengayuh sepedanya yang berwarna pink kesayangannya dengan santai.
.
Saat aku menoleh ke belakang, tak tampak teman sekolahku yang lain. Sehingga aku mengayuh sepedaku lebih cepat hingga sejajar dengan sepeda Luna. Telingaku mendengar suara lirihnya sedang bersenandung sebuah lagu bahasa jepang.
“Luna, Apa kegiatanmu saat liburan nanti?” Tanyaku sambil memelankan laju sepeda.
“Nonton anime donk, hahaha…aku sudah download di perpus dari kemarin, tinggal nonton aja deh di rumah.” Jawabnya terkekeh sumringah. “Kalau kamu?” Tanya Luna kepadaku.
“Biasa, chatting sama teman-teman. Infinity War sudah di depan mata.” Jawabku bersemangat.
.
Sayangnya jalan menuju rumah kami berbeda, sehingga kami berpisah di tengah jalan. Begitu sampai rumah, aku memasukkan sepeda ke garasi dan segera melepas sepatuku. Aku mendatangi toko mama untuk mencium tangan.
“Bagaimana sekolahnya?” Tanya Mama.
“Baik, Ma.” Kataku sambil membuka kulkas toko dan mengambil es lilin kacang hijau kesukaanku. Panas-panas begini, makan es lilin sambil chatting pasti seru pikirku.
“Ada PR Har?” mama Tanya lagi. Aku menggelengkan kepala karena aku sedang makan es lilin. “Kamu belajar yang rajin, biar pinter. Kamu kan contoh untuk adik-adik kamu. Jangan main di internet terus.”
.
Mama mulai lagi memberi nasehat-nasehat bagaimana menjadi kakak yang baik. Kadang aku males mendengarkan nasehat ini yang intinya aku harus jadi anak baik agar dicontoh oleh adik. Aku Cuma mengangguk-anggukkan kepala karena malas menanggapi.
.
Mama memberi contoh sepupu-sepupuku yang lebih tua yang kata mama sudah sukses, aku harus bisa kayak mereka, bisa dapat kerjaan bagus. Kata mama, sepupuku itu dulu waktu masih muda jarang main internet makanya bisa sukses, padahal menurutku bisa saja dulu kesempatan mengakses internet sangat sulit. Jujur saja, aku sebal kalau harus disuruh mencontoh sepupu-sepupuku itu, aku nggak ingin seperti papa yang kerja di kantor sampai mau libur juga sulit, sekalinya libur masih mikir kerjaan. Kalau tentang sukses, aku ingin sukses seperti Tony Stark. Dia orang yang kaya dan cerdas menurutku.
.
Akhirnya, setelah 30 menit aku mendengarkan nasehat mama tentang kesuksesan dan internet, aku meminta ijin untuk masuk. Aku merasa suasana udara di dalam toko lebih panas daripada diluar toko, hahaha. Aku masuk ke kamar dan menyalakan kipas angin untuk mengurangi hawa panas yang kurasakan.
.
Sebelum aku melepas seragam pramukaku, aku menyalakan komputer. Tadi saat di sekolah, aku sekilas mengintip di forum, mereka membicarakan presale tiket infinity war. Jujur, aku benar-benar tak sabar untuk melihat film ini yang menurut berita tiket presale nya sangat laris.
“Lepas bajumu dulu Hari!” Kata Mama
“Iya Ma. Sebentar.” Jawabku.
“Sekarang!” Bentak Mama.
.
Aku mendengus kesal, kemudian menutup pintu kamar dan berganti baju secepat mungkin. Aku sudah tidak sabar untuk mendapatkan tiket infinity war. Apalagi beberapa teman di Malaysia sudah pamerkan tiketnya, semakin berdebar jantungku.
.
Setelah berganti baju, aku kembali duduk di depan monitor. Aku mulai mencari tentang presale tiket infinity war untuk daerah Indonesia. Aku baru menemukan untuk wilayah Jogja akan nonton bareng pada tanggal 25 April. Itu bukan hari minggu, papa tidak mungkin bisa cuti, apalagi untuk alasan nonton film.
.
Selagi aku fokus pada hasil pencarian di layar monitor, aku benar-benar tidak sadar mama sudah berdiri di samping kananku sambil menggendong Arza. Aku melirik mama kemudian aku fokus lagi ke monitor. Tiket ini sangat penting bagiku karena aku ingin menjadi yang pertama mendapatkan tiket ini di sekolah. Tak terbayang bagaimana respon Kak Dimas dan si kembar ketika aku berhasil mendapatkan tiket emas ini.
.
“Hari, Mama bicara sama kamu.” Kata Mama. Aku benar-benar terkejut, aku tak tau apa yang mama katakan sebelumnya, sehingga aku melongo. Aku tadi masih membayangkan mendapat tiket presale dan dikagumi oleh semua orang di sekolah. Ya pesona Infinity War memang menyebar pada semua siswa di sekolahku, termasuk pada yang bukan fanatic film Marvel.
.
“Mau sampai kapan kamu main internet?” Tanya mama sambil melotot ke arahku.
“Sudah dua jam kamu main internet! Sudah cukup!” Katanya lagi.
Aku melirik jam dinding di kamarku. Ternyata sudah 2 jam aku duduk di depan komputerku. Sungguh, aku malas berdebat dengan mama.
“Matikan komputer kamu sekarang atau Mama cabut sambungan internetnya.” Kata mama.
Ini yang membuatku malas berdebat dengan mama, mama selalu mengancam mencabut internet.
“Ma, kumohon, sebentar, aku mau baca ini sebentar.” Jawabku sambil menunjukkan sebuah artikel yang ku buka di monitor.
“Matikan komputermu sekarang Hari!”Bentak Mama.
“Tunggu sebentar, Ma!” Jawabku.
“Sekarang!!” Bentak mama dengan suara yang lebih tinggi.
“Nggak mau!” Aku membentak balik
.
Tiba-tiba mama mengambil keyboardku. Aku menatap mamaku yang masih berdiri. Aku tetap melanjutkan membaca artikel yang sudah ku buka.
“Hari, matikan komputernya sekarang.” Kata mama dengan suara lebih pelan dari tadi.
“Nggak mau!” Jawabku tanpa memelankan suara, aku sudah terlanjur kesal pada mamaku.
“Jangan berteriak Hari!” Bentak mama.
“Aku tidak teriak Ma!”Jawabku.
.
Mama berdiri di depanku dengan berkacak pinggang.
“Hari, matikan komputernya.” Kata Mama.
“Tidak Ma, aku masih belum selesai membacanya.” Aku mulai merengek.
“Mama tidak peduli.”Jawab Mama sambil mendekati colokan listrik utama di kamarku.
“Ma, kumohon jangan!” bulir air mataku sudah jatuh. Aku pantang menangis, tapi kali ini aku sudah tidak tahan lagi.
.
Tiba-tiba komputerku padam. Rupanya mama mencabut aliran listrik komputerku.
“Mama!!!” Aku semakin kesal pada mamaku. Aku masih menatap layar monitor yang menjadi gelap ketika mama berkata. “Kamu dilarang main internet selama seminggu!”
“Aku benci Mama!” Teriakku.
Aku menutup wajahku dengan kedua belah tanganku. Aku tak bisa menahan air mataku.
.
Aku terkejut dan melihat ke arah mama yang sedang duduk di samping kananku. Aku tak percaya dengan apa yang mamaku katakan, jujur, aku merasa sakit hati sekali kali ini. Mamaku tampak terkejut melihatku, aku menahan air mata yang hampir jatuh dari mataku, aku tak tau bagaimana ekspresiku sekarang.
“Kamu ketagihan internet Har. Kamu harus mengontrol internet, bukan internet yang mengontrol hidupmu!” Kata mama di sampingku.
.
Aku mengambil buku pelajaran di depanku dan ku sobek-sobek. Entah kenapa aku benar-benar kesal. Apalagi saat mama merebut buku itu dan melotot padaku. Aku meninggalkan mama, keluar dari kamar. Aku mengambil foto keluarga yang ada di dinding dan memecahkannya. Bahkan foto adik-adikku juga ku pecahkan.
.
Aku kecewa pada mama, sangat kecewa. Entah mana yang lebih menyakitkan, bentakan mama atau larangan menggunakan internet. Yang pasti, hatiku benar-benar sakit. Aku menatap ponselku, tidak ada jaringan wifi di rumah ini. “Mama kejam!!” Teriakku sambil membanting ponsel itu ke lantai.
.
Mama mendekatiku, wajahku terasa sangat panas sekali. Nafasku sesak dan jantungku berdegub dengan kencang. Aku menatap tajam ke arah mama. Mama mengambil hape di sakunya dan menelpon seseorang.
“Ya, dia ngamuk di rumah. Kita pindahkan saja sekolahnya.” Kata mama pada lawan bicaranya di telpon.
.
Aku terkejut mendengar kata-kata mama. Aku berlari ke dalam kamar dan ku banting pintu kamarku. Aku hanya bisa menangis dan menjerit di kamar karena aku benar-benar merasa diabaikan.
.
Mama membuka pintu kamarku tanpa permisi dan mengatakan hal yang menyakitkan, “Tahun ajaran baru, kamu akan pindah sekolah.” Aku hanya mampu berteriak diatas bantal.
.
Video ilustrasi, klik : https://youtu.be/AqzPcBesTH0
.
Dari Bubu Baba dan Kak Candra Adhi Wibowo
Untuk Keluarga Hebat Indonesia

Author: 

Related Posts

No Response

Tinggalkan Balasan