Ramadhan #1

Kutatap langit biru yang tergambar di jendela besar di depanku. Beberapa ekor burung terbang melintas. Aku berpikir, apakah burung-burung itu satu keluarga? Atau hanya sekumpulan burung yang kebetulan terbang bersama menuju arah yang sama? Apapun status hubungan mereka, melihat pemandangan itu hatiku menjadi hangat.

 

“Uhuk uhuk.”

 

Suara batuk memutuskan pikiranku tentang sekumpulan burung yang terbang melintas. Kutatap pria tua yang selama hampir empat dekade hidup bersamaku. Pria tua yang sedang duduk menatap tembok kosong berwarna hijau di hadapannya.

 

Ku hela nafas berat sambil ku arahkan kakiku untuk mendekatinya, duduk di sebelahnya seperti hari-hari sebelumnya. Ku raih tangannya dan kubelai dengan lembut. Dia menatapku, tanpa senyum. Walau begitu, aku berusaha untuk tersenyum hangat padanya. Karena aku tau, saat ini, hanya aku yang bisa mencintainya.

 

“Ayah lagi apa?” Tanyaku lembut.

“Besok sudah idul fitri ya, Bunda?” Tanyanya.

 

Aku kembali menoleh ke arah jendela. Kali ini bukan awan yang terlihat, melainkan pemandangan hilir mudik penduduk kota. Kemudian aku melihat ada anak kecil yang sedang menggandeng wanita tua. Di belakang mereka ada sepasang…., menurutku mereka suami istri, sedang berbicara. Sepertinya kepada anak kecil di depan mereka karena anak itu berhenti dan menoleh kepada pasangan itu.

 

Anak itu tampak merogoh isi tas ranselnya. Dia mengambil botol minum, dan menyerahkan botol itu kepada wanita tua yang tadi dia gandeng. Wanita itu menolak, namun si anak kecil tampaknya tidak menyerah dan menyodorkan botol itu ke bibir nenek-nenek itu. Entah berapa teguk yang ia minum, wanita itu segera menyerahkan kepada  anak laki-laki berkaos merah atau orange itu, entahlah…, di mataku warnanya tidak jelas. Anak itu memasukkan kembali botol yang berisi minuman neneknya ke dalam tas.

 

Kemudian si anak itu kembali menarik tangan wanita tua, dan lagi-lagi sepertinya dua orang di belakangnya berbicara padanya. Sepertinya anak itu mendapat teguran karena setelah pembicaraan itu, anak laki-laki itu tidak lagi menarik tangan si nenek.

 

Aku tertawa ringan melihat pemandangan unik ini. Namun hal berbeda terjadi di pipiku, pipiku basah, mataku sudah terasa panas. Sejak kapan aku menangis?

 

“Iya Yah, malam ini adalah malam Idul Fitri.” Gumamku. Air mataku kembali jatuh. Ingatanku melayang jauh ke memori malam itu, lebih dari 30 tahun yang lalu, tapi ingatan itu terasa jelas sekali, seperti baru terjadi kemarin.

***

 

“Idul Fitri seminggu lagi, Nina. Pastikan semua kiriman sudah beres sebelum toko libur. Baju-baju itu mau dipakai saat lebaran lho. Kamu koordinasi dengan Diana yang di produksi, kendalanya apa kok ada yang kurang begini? Iya, kalau perlu lembur.” Kataku pada salah satu karyawan melalui telepon.

 

“Iya, sebentar lagi kan cuti bersama, jangan loyo. Kamu ini kepala bidang kenapa nggak becus handel anak buah sih. Saya maunya semua laporan ada di meja saya sebelum akhir pekan. Iya. Saya nggak mau tau, kalau perlu kalian lembur lah.” Suara lain di dalam ruangan kerja ini, yang tak lain milik suamiku, juga meramaikan suasana.

 

Namaku Sandra, aku pemilik butik ternama di Indonesia. Bisnis yang ku mulai lima tahun yang lalu, saat ini sedang berada di puncak. Momen Ramadhan tahun ini benar-benar meningkatkan omset kami. Omset naik dibarengi dengan naiknya pekerjaan kami.

 

Suamiku, namanya Harry, adalah pegawai pemerintahan. Posisinya yang sangat bagus juga membuatnya sedikit sibuk di Bulan Ramadhan ini. Aku sangat bersyukur, perekonomian kami semakin baik setiap tahunnya. Alhamdulillah.

 

Oh iya, aku punya anak. Namanya Rehan.

 

Rehan saat ini berusia tujuh tahun. Sebelum menjadi pebisnis, aku adalah karyawan swasta. Perusahaanku sering bekerjasama dengan perusahaan BUMN tempat Mas Harry bekerja, darisanalah cinta bersemi dan akhirnya kami menikah.

 

Ketika Rehan lahir, aku masih bekerja. Lalu saat Rehan berusia  setahun, Mas Harry mendapat kenaikan jabatan, dia memintaku untuk fokus di rumah menemani Rehan. Namun karena sudah terbiasa bekerja, aku cukup setress jika hanya diam di rumah.

 

Hingga kemudian setahun berikutnya, aku mencoba jualan baju hasil jahitan temanku. Sebenarnya iseng-iseng, dia jahit baju langganan, tapi langganannya kabur. Ya daripada bajunya nggak dipakai, aku coba jual di facebook, dan ternyata respon pasar cukup bagus.

 

Untungnya Mas Harry nggak keberatan ketika aku mengutarakan niatku untuk membantu teman, bahkan Mas Harry memberi modal. Syarat utamanya adalah aku tetap fokus pada Rehan.

 

Ah, aku jadi ingat, dimana anak itu sekarang? Ku edarkan mataku mencari sosok mungil Rehan. Akhirnya aku menemukan bocah bermata besarku di samping kursi kerja ayahnya. Dia sedang bermain dengan handphone yang dia dapatkan di usianya yang ke tujuh bulan lalu.

 

“Bunda sudah selesai kerja?” Tanyanya.

“Belum sayang, Bunda mau telpon Tante Tami ini.” Jawabku.

“Ini sudah malam lho Nda, kok kerja terus?” Tanyanya lagi.

“Iya, soalnya buru-buru ini sayang, sebentar lagi Idul Fitri, paketnya ditunggu orang-orang.” Jawabku berusaha.

“Rehan mau main, Bunda.” Jawabnya.

“Rehan jangan rewel dong sayang. Nanti Rehan mau hadiah apa saat Idul Fitri?” Tanyaku.

“Mau adik aja Bunda.” Jawabnya polos.

 

Rehan memang sudah tujuh tahun, sudah berkali-kali dia meminta adik. Tapi aku dan Mas Harry masih ingin fokus kerja. Tujuan kami bekerja keras tentu saja agar masa depan Rehan terjamin, kami mampu memenuhi apapun keinginan Rehan. Sudah cukup kami saja yang susah ketika muda, mau kuliah harus nyari beasiswa dulu, mau beli buku kuliah nggak sanggup. Sudah cukup, Rehan harus bisa mendapat pendidikan terbaik.

 

Dan atas alasan itu, aku belum ingin menambah anak. Rehan saja kadang kalau rewel begini membuatku ingin marah padanya, apalagi kalau ketambahan anak lagi. Ah tidak tidak, bisa-bisa aku tidak bisa memikirkan bisnisku lagi.

 

“Rehan nggak pengen PS?” Tanyaku berusaha mengalihkan pikirannya dari adik.

 

Dia menggelengkan kepala. Kemudian dia menatap ke arah suamiku yang masih fokus menatap laptop besarnya yang berwarna putih.

“Ayah, Ayah kapan bisa main sama Rehan, Yah?”

bersambung….

Author: 

Related Posts

No Response

Tinggalkan Balasan